07 November 2009

Mencoba Ubuntu 9.10 (Tulisan Pertama)

Baru install Ubuntu 9.10 a.k.a Karmic Koala, setelah berkutat dengan download yang gagal terus, maklum koneksi pake 3g yang kadang idup kadang mati, untungnya download make bit torrent, jadi bisa diresume dengan mudah kalo putus.

Kelar download, langsung check md5sum nya, cocok dengan md5sum:

8790491bfa9d00f283ed9dd2d77b3906

artinya file yang sudah saya download sama persis dengan yang aslinya di server ubuntu sana... langsung di burn pake pc kantor, kelar langsung dicoba live CD di komputer yang sama, nggak ada masalah yang berarti, semua bisa dideteksi dengan benar mulai suara, vga, sampe wireless (tipe nggak saya perhatikan).

Masalah pertama: Sepulangnya dari kantor, sore langsung coba live cd di pc sendiri. Tidak ada masalah, sama seperti di kantor. Tapi saat ingin menginstallnya (pilihan pada saat booting) tertulis “Cannot Booting”. Beberapa kali dicoba hasil tetap sama, saya menduga ada kerusakan dengan CD ubuntu hasil burning tadi, jadi saya coba boot melalui USB Flashdisk, untuk masih ada laptop di rumah yang pake Ubuntu 8.10, jadi dengan mudahnya file Ubuntu 9.10 dalam bentuk ISO tadi saya jadikan bootable di USB Flashdisk dengan menggunakan “USB Startup Disk Creator” bawaan ubuntu.

Saya ulangi installasi, kali ini menggunakan flashdisk, Alhamdulillah mulus tidak ada hambatan apapun. Yang saya suka adalah tampilan splash pada saat startup, biasa disuguhi dengan tulisan ubuntu dan garis atau persegi yang berjalan, kali ini hanya logo ubuntu putih yang kontras dengan latar belakang hitam. Masuk ke login sudah menggunakan sistem klik, jadi tidak perlu susah-susah menuliskan user name. Lumayan cepat jug bootingnya, ada peningkatan yang berarti dari Ubuntu 9.04, theme yang sudah lebih baik dari versi sebelumnya (lebih cerah), juga icon yang menurut saya lebih bagus dibanding versi sebelumnya, namun begitu saya tetap tidak menyukai theme dan icon default ubuntu.

Malam ini saat saya tulis ini, ada beberapa pengalaman saya dalam mengutak atik tampilan ubuntu standar menjadi ubuntu yang “enak dilihat” menurut saya, ada yang gagal, ada yang berhasil... yah namanya masih amatir dan newbie sekali soal ubuntu, jadi jika gagal cari di google. Berhubung saya ngantuk, saya berniat sambung tulisan besok lagi, atau besoknya lagi.